Luar
biasa, Super Sekali !!! Di lahan yang sempit dan terbatas, Muhammad Rafi (33) dapat berkebun jambu
Madu Deli Hijau (MDH). Dengan seratus batang pohon jambu, dia dapat berpenghasilan
jutaan rupiah perbulan hanya dengan berkebun jambu madu (MDH) pada lahan seluas 900 meter persegi.
Jika anda merupakan penggemar tanaman buah, tentu pernah mendengar buah jambu Madu Deli
Hijau. Nah, tanaman buah yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara itu, kini telah
menyebar dan dibudidayakan oleh para pekebun di berbagai daerah, terutama di Pekanbaru, Provinsi Riau.
Gambar 1. Jambu Madu Siap Untuk Dipanen
Di Provinsi Riau, tepatnya Kota Pekanbaru adalah Muhammad Rafi yang sukses dengan Jambu Madu MDH. Sarjana Teknik Jurusan Teknik Elektro ini
memilih manisnya uang dari berkebun jambu yaitu Jambu Madu daripada bekerja sesuai disiplin
ilmunya semasa kuliah. Bagaimana tidak, hanya dengan 100 (seratus) batang jambu madu yang ditanam di dalam pot,
pria murah senyum ini bisa menghasilkan uang jutaan rupiah perbulan.
Gambar 2. Kebun Jambu Madu
Karena ditanam di pot, maka jangan dibayangkan berkebun jambu madu ala Muhammad Rafi
butuh lahan yang luas. Dia hanya memanfaatkan lahan kosong ukuran 30 x 30 meter persegi di
depan rumahnya yang berlokasi di Jalan Sepakat, Kulim, Pekanbaru.
Di lahan tersebut, sejak dua tahun lalu, Rafi mulai merintis Tabulampot
(Tanaman Buah dalam Pot). Dia memilih jambu air varitas jambu Madu Deli Hijau.
Jambu air yang super manis ini, pernah memenangkan kontes buah unggul pada
tahun 2003 silam yang diadakan Majalah Trubus di Jakarta, dan kini dilepas oleh Kementrian Pertanian RI sebagai salah satu varitas unggul nasional.
Gambar 3. Kebun Jambu Madu Rafi
Meski Jambu Madu (MDH) berasal dari Sumatera Utara, Muhammad Rafi justru mendapatkan
bibitnya dari Kota Dumai. Ketika itu, harganya relatif masih murah sehingga
Rafi memborongnya 100 batang jambu madu.
Dasar tanaman unggul, dan dirawat dengan benar, pada usia delapan bulan setelah
ditanam, Rafi mulai memetik hasilnya. Satu persatu pohon jambu air miliknya
mulai berbuah. Soal pemasaran, ternayata tidak menjadi masalah. Pasar buah dan
swalayan yang ada di Pekanbaru siap menampung Jambu Madu (MDH) hasil produksi kebun mini milik Rafi.
Semula, satu kilo gram Jambu Madu (MDH) hanya dihargai Pasar Buah sekitar Rp 20 ribu. Tetapi,
ketika permintaan semakin besar, jambu milik Rafi menembus angka Rp 40 ribu
per kilo gram. Angka tersebut tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan, Rafi yang justru
kewalahan memenuhi permintaan supermarket dan pasar buah terkenal di Kota Pekanbaru. Karena, masyarakat mulai datang
langsung membeli ke tempat Rafi.
"Banyak yang datang langsung ke sini untuk membeli jambu madu. Selain ingin
melihat langsung, mereka tertarik untuk mendapatkan bibitnya," ujar pria
asal Penyalai, Kabupaten Pelalawan ini.
Selain memproduksi buah, Rafi memang mempersiapkan bibit jambu bagi mereka yang
tertarik untuk menanam. Dan dari penjualan bibit jambu, ternyata tak kalah
hebat dalam mengisi kantong Rafi.
Harga bibit jambu milik Rafi bervariasi. Mulai dari Rp50 ribu hingga mencapai
angka Rp3 juta, tergantung tinggi dan besar pohonnya. Angka yang fantastis itu,
tentu saja bukan jenis bibit yang baru turun cangkok atau okulasi, tetapi
berupa pohon jambu yang sudah produksi maksimal.
"Jika ada yang berminat pohon yang sudah besar dan berbuah lebat begini,
saya juga jual. Tapi harganya bukan seperti harga bibit jambu," ujar Rafi
sambil memegang salah satu pohon jambu madu MDH yang bediri tegap dengan buah yang
bergelantungan.
Gambar 4. Rafi Memegang Jambu Madu di Kebun Mini Rumahnya
Jika sudah begitu, bisa anda bayangkan berapa penghasilan Rafi perbulannya.
Sehari saja terjual 5 kilo jambu, dia sudah mengantongi uang Rp200 ribu. Belum
lagi dari hasil penjualan bibitnya yang tak kalah banyak peminat.
Gambar 5. Bibit Jambu Madu
Setiap yang melihat, pastilah tertarik untuk memilikinya. Dalam polibag kecil
saja, jambu madu MDH milik Rafi sudah mulai mengeluarkan bunga. Jika dipindah ke pot atau
media yang lebih besar, pohon jambu madu tentu akan tumbuh besar dengan buah yang
tentu saja lebih banyak dan besar.
Gambar 6. Jambu Madu Di Dalam Polibag
"Biasanya ibu-ibu yang langsung tergoda melihat jambu madu ini. Soalnya, sambil
duduk di depan rumah bisa memetik jambu madu milik sendiri di dalam pot," ujar
Rafi.
Soal perawatan dan pupuk, menurut Rafi tak begitu berat. Pohon jambu madu yang masih
kecil belum membutuhkan pupuk yang banyak. Cukup dikasi pupuk dasar berupa
kotoran ternak dan sedikit NPK. Ketika jambu madu sudah besar dan berbuah, kebutuhan
pupuknya mulai meningkat. Meski begitu, untuk 100 batang pohon jambu madu yang sudah
besar, hanya menghabiskan dana untuk pupuk sekitar Rp500 ribu. Itu pun sudah
termasuk biaya pestisida dan perangkap lalat buah.
Gambar 7. Perangkap Lalat Buah Pada Tanaman Jambu Madu.
Untuk mengatasi lalat buah, Rafi merakit sendiri perangkap yang dipasang di
sekitar lahan. Dengan demikian, dia tidak perlu lagi repot membungkus putik
jambu.
"Semakin banyak perangkap lalat buah, makin baik. Soalnya, hama utama
jambu madu adalah lalat buah. Jika sudah dihinggapi lalat buah, alamat jambu madu akan
busuk," kata Rafi.
Rafi yakin Tabulampot jambu madu (MDH) miliknya akan tetap berjaya meski baraneka
jenis buah menyerbu Kota Pekanbaru. Baik yang diproduksi di Pekanbaru maupun
berasal dari luar daerah. Menurut Rafi, pangsa pasar jambu air terutama jambu madu akan tetap ada.
Jambu adalah buah yang sudah merakyat dimakan oleh siapa saja dan dimana saja.