Tampilkan postingan dengan label bibit jambu madu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit jambu madu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Wow Keren, Pekanbaru Bisa Jadi Eksportir Buah

Menjadi petani saat ini belum menjadi pilihan utama. Apalagi bagi warga perkotaan yang tinggal di kediaman dengan lahan terbatas. Namun dengan varietas unggulan, serta kemajuan teknologi bertani di perkotaan bukan hal mustahil.

Caranya tidak sulit Petani Jambu air Madu Deli Hijau (MDH). Rafi menyebutkan Pekanbaru bisa menjadi pemasok Jambu MDH kerena dengan pola Tanaman Buah Dalam Pot (Tabulapot) tidak memerluan lahan yang luas.

Cukup satu rumah pelihara tiga bibit jambu. Selama enam sampai delapan bulan sudah bisa berbuah. Jika satu perumahan ada 50 rumah, tinggal adakan koordinator yang mendistribusikan ke pusat perbelanjaan. Dengan begitu selain menghemat biaya perawatan, bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pada hanya merawat bunga, memelihara Jambu MDH lebih menguntungkan.

Bila pola ini dilakukan di banyak perumahan yang ada di Pekanbaru, bukan tidak mungkin bisa diekspor. "Jika pembudidaya sudah banyak, jambunya bisa diekspor ke luar negeri," katanya.

Gambar 1. Pelanggan Setia Pemesan Jambu Madu

Bagi saya, budidaya buah asal Sumatera Utara (Sumut) ini, tidak rumit. Cukup memperhatikan asupan air, pupuk, dan hama.

Sebenarnya dengan pola Tanam Buah Dalam Pot (Tabulapot) memudahkan dari segi budidaya. Selain mudah dijangkau, tanaman tidak memerlukan lahan yang luas. "Jambu MDH memang jagonya tanaman dalam pot," sebutnya. (Tulisan juga dimuat di bertuahpos.com)

Tips Jitu Agar Jambu Madu Bisa Berbuah Lebat dan Manis

Kunci sukses budidaya Jambu Air Madu Deli Hijau (MDH) selain bibit kualitas unggul, yakni terletak pada perawatan. Jika salah perawatan, bisa jadi jambu yang dihasilkan tidak manis bahkan gugur sebelum matang karena di serang hama.

Bagi saya budidaya buah asal Sumatera Utara (Sumut) ini, tidak rumit. Cukup memperhatikan asupan air, pupuk, dan hama.

Sebenarnya dengan pola Tanam Buah Dalam Pot (Tabulapot) memudahkan dari segi budidaya. Selain mudah dijangkau, tanaman tidak memerlukan lahan yang luas. Jambu MDH memang jagonya tanaman dalam pot.

Setelah pemilik mendapatkan bibit yang bagus, setiap batang dalam pot mesti diberi jarak sekitar 2,5 - 3 meter. Itu berguna untuk menjaga pertumbuhan batang tidak saling ganggu.




Gambar 1. Jarak Ideal Pohon Jambu Madu

Selain itu yang perlu diperhatikan, yakni penyiraman. Jambu MDH mesti disiram pagi dan sore hari, namun bila panas terik intensitas penyiraman ditambah jadi 3-4 kali. Kalau saya menggunakan teknik irigasi tetes, melalui metode manual juga bisa.

Pemupukan juga dilakukan satu kali seminggu, menggunakan pupuk kandang dicampur sedikit NPK. Kalau sedang berbuah, pemberian pupuk bisa ditambah dua kali seminggu.

Hama lalat buah juga mesti diperhatikan. Hal ini untuk menghindari buah menjadi busuk sebelum panen. "Kalau menghindari lalat buah bisa dengan cara membungkus, atau pakai perangkap sederhana.

Selain itu saya menyarankan bila pohon telah berputik agar diseleksi. Kalau saya jika ada tiga putik di satu tangkai, dua saya buang. Hanya satu yang dipertahankan, ini berguna untuk menjamin rasa buah tetap manis, tidak terbagi.


Gambar 2. Posisi Jambu Madu yang menggantung


Selain itu bila bakal buah muncul, saya menyarankan pertahankan Jambu yang berposisi mengantung. Kalau ada yang tumbuh ke atas di buang saja, karena nanti jika besar akan patah. (Tulisan dimuat juga di bertuah.com)

Panen Tiap Hari, Kebun Jambu Madu Rafi dikembangkan menjadi Agrowisata

Selain dijual di toko-toko atau swalayan, kebun Jambu Air Madu Deli Hijau (MDH) milik saya ini juga diperuntukkan sebagai Agro wisata. Setiap akhir pekan, kebun ini selalu diramaikan pengunjung.
 
Kebun yang beralamat di Jalan Sepakat, Kulim ini memang dipenuhi jambu siap panen tiap harinya. Kebun ini juga dijadikan sebagai tempat wisata. Jadi sambil bawa anak-anak mereka bisa lihat-lihat dan metik sendiri dari batang.

 Gambar 1. Raffi di sela-sela Tabulampot Jambu Madu Miliknya.
 Gambar 2. Hamparan Jambu Madu di Kebun Mini




Selama dua setengah tahun membudidayakan jambu varian Sumatera Utara (Sumut) ini, pengunjungnya terus berkembang. Tidak hanya berasal dari dalam Kota Pekanbaru, tapi juga dari luar.

Kebanyakan pengunjungnya masyarakat sekitar sini, tapi ada yang berasal dari Siak, Pelalawan, dan Kampar juga ada. Biasanya tiap Sabtu dan Minggu ramai.

Pengunjung bisa datang untuk berjalan-jalan melihat cara budidaya Tanaman Buah dalam Pot (Tabulapot). Masuk ke area di dekat perumahan ini tidak dipungut biaya. "Kalau mau beli jambunya bisa petik sendiri Rp 40ribu per kilogram.

Budidaya jambu ini juga bisa menambah penghasilan. Harga satu kilogram Jambu MDH Rp 40ribu di pasaran. Saat ini di lahan 30x30 meter persegi, saya sudah memiliki 150 batang pohon yang berbuah lebat. Jika sehari saja laku 10 Kg, maka sudah berpenghasilan Rp 400 ribu per hari.


Gambar 3. Jambu Madu Siap Untuk di Jual


Jadi dari 100 batang dengan panen 1 kg per batang saja, tiap bulannya sudah bisa mengalahkan penghasilan dari sawit dua hektare.

Untuk tahu lebih banyak budidaya Jambu MDH ini dapat menghubungi saya (Rafi di 081371015202). Atau bisa juga langsung berkunjung ke kebun saya yang beralamat Jalan Sepakat, Perum BMP Blok B No. 8, Kulim Pekanbaru. (Tulisan dimuat juga di bertuah.com)

Sabtu, 04 Oktober 2014

Tips Sukses Merawat Jambu Madu Sisuper Manis

Faktor utama kegagalan berkebun jambu madu ternyata adalah soal pemilihan bibit. Kualitas bibit jambu madu yang buruk dengan perawatan yang sangat minim akan menyebabkan kegagalan.

Untuk itu jika anda berniat menanam jambu madu ini di rumah, sebaiknya anda berhati-hati dalam memilih bibit, agar pada saat berbuah kelak anda tidak akan mendapatkan hasil yang mengecewakan seperti rasa jambu madu yang asam, warna tidak hijau, warna buah putih bahkan bentuk buahnya ceper.
Gambar 1. Jambu Madu

Merawat jambu madu sebenarnya tidak sulit, selama anda mau menyisihkan waktu paling tidak dua jam setiap hari, dapat dipastikan jambu madu Anda bisa berbuah sesuai dengan harapan. Selain itu media tanam jambu madu juga tidak membutuhkan ruang yang besar, di halaman rumah sendiri pun bisa digunakan untuk berkebun jambu madu dengan teknik Tabulapot (Tanaman Buah Dalam Pot).

Berikut adalah tips sukses merawat jambu madu:

Untuk mendapatkan buah yang berkualitas bagus, pemilihan bibit adalah hal utama yang harus dilakukan. Anda harus benar-benar pandai memilih bibit jambu madu yang berkualitas baik.

Menanam jambu madu dapat dilakukan dengan teknik tabulapot, dan ini merupakan cara terbaik yang seperti yang dilakukan Muhammad Rafi. Kelebihan dari teknik ini adalah anda tidak memerlukan lahan yang luas, pohon yang dihasilkan lebih pendek, lebih mudah dalam perawatan hariannya serta lebih memudahkan pada saat pemanenan.
Gambar 2. Rafi di Kebun Mini Jambu Madi

Setiap pohon jambu madu yang ditanam, diberi jarak sekitar 2,5 - 3,0 meter, agar pertumbuhan pohon tidak saling mengganggu. Lakukan penyiraman pohon pada pagi dan sore hari, namun bila cuaca sangat panas maka intensitas penyiraman bisa ditambah menjadi 3-4 kali setiap hari. Penyiraman dapat menggunakan teknik manual atau melalui irigasi tetes atau dengan kran otomatis.

Pemupukan dapat dilakukan 1 kali seminggu dengan campuran pupuk NPK dan pupuk kandang namun jangan sampai terkena batang pangkal. Namun apabila sedang berbuah maka intensitas pemberian pupuk dapat ditambah menjadi 2x seminggu.

Untuk mendapatkan buah yang punya kualitas bagus, penanganan terhadap hama juga perlu dilakukan, salah satu cara adalah dengan membungkusnya. Bisa juga membuat perangkap lalat buah seperti yang dilakukan Muhammad Rafi.
Gambar 3. Jambu Madu Terawat Baik

Perlu diketahui bahwa sebenarnya buah jambu air (jambu madu) itu tidak kenal musim. Buah jambu madu (jambu air) bisa berbuah sepanjang tahun selama mendapatkan perawatan yang tepat. Jumlah yang bisa diperoleh setiap kali panen bisa mencapai 10 kg - 15 kg setiap pohon dengan rentang waktu 1,5 – 2 tahun sejak di tanam. Bahkan jika anda memperoleh bibit jambu madu dari hasil cangkok atau stek, bisa jadi panen pertama anda lebih cepat.

Seratus Batang Jambu Madu (MDH) Bisa Kalahkan Kebun Sawit Seluas Dua Hektare

Luar biasa, Super Sekali !!! Di lahan yang sempit dan terbatas, Muhammad Rafi (33) dapat berkebun jambu Madu Deli Hijau (MDH). Dengan seratus batang pohon jambu, dia dapat berpenghasilan jutaan rupiah perbulan hanya dengan berkebun jambu madu (MDH) pada lahan seluas 900 meter persegi.

Jika anda merupakan penggemar tanaman buah, tentu pernah mendengar buah jambu Madu Deli Hijau. Nah, tanaman buah yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara itu, kini telah menyebar dan dibudidayakan oleh para pekebun di berbagai daerah, terutama di Pekanbaru, Provinsi Riau.
Gambar 1. Jambu Madu Siap Untuk Dipanen


Di Provinsi Riau, tepatnya Kota Pekanbaru adalah Muhammad Rafi yang sukses dengan Jambu Madu MDH. Sarjana Teknik Jurusan Teknik Elektro ini memilih manisnya uang dari berkebun jambu yaitu Jambu Madu daripada bekerja sesuai disiplin ilmunya semasa kuliah. Bagaimana tidak, hanya dengan 100 (seratus) batang jambu madu yang ditanam di dalam pot, pria murah senyum ini bisa menghasilkan uang jutaan rupiah perbulan.
Gambar 2. Kebun Jambu Madu


Karena ditanam di pot, maka jangan dibayangkan berkebun jambu madu ala Muhammad Rafi butuh lahan yang luas. Dia hanya memanfaatkan lahan kosong ukuran 30 x 30 meter persegi di depan rumahnya yang berlokasi di Jalan Sepakat, Kulim, Pekanbaru.

Di lahan tersebut, sejak dua tahun lalu, Rafi mulai merintis Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot). Dia memilih jambu air varitas jambu Madu Deli Hijau. Jambu air yang super manis ini, pernah memenangkan kontes buah unggul pada tahun 2003 silam yang diadakan Majalah Trubus di Jakarta, dan kini dilepas oleh Kementrian Pertanian RI sebagai salah satu varitas unggul nasional.


Gambar 3. Kebun Jambu Madu Rafi

Meski Jambu Madu (MDH) berasal dari Sumatera Utara, Muhammad Rafi justru mendapatkan bibitnya dari Kota Dumai. Ketika itu, harganya relatif masih murah sehingga Rafi memborongnya 100 batang jambu madu.

Dasar tanaman unggul, dan dirawat dengan benar, pada usia delapan bulan setelah ditanam, Rafi mulai memetik hasilnya. Satu persatu pohon jambu air miliknya mulai berbuah. Soal pemasaran, ternayata tidak menjadi masalah. Pasar buah dan swalayan yang ada di Pekanbaru siap menampung Jambu Madu (MDH) hasil produksi kebun mini milik Rafi.

Semula, satu kilo gram Jambu Madu (MDH) hanya dihargai Pasar Buah sekitar Rp 20 ribu. Tetapi, ketika permintaan semakin besar, jambu milik Rafi menembus angka Rp 40 ribu per kilo gram. Angka tersebut tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan, Rafi yang justru kewalahan memenuhi permintaan supermarket dan pasar buah terkenal di Kota Pekanbaru. Karena, masyarakat mulai datang langsung membeli ke tempat Rafi.

"Banyak yang datang langsung ke sini untuk membeli jambu madu. Selain ingin melihat langsung, mereka tertarik untuk mendapatkan bibitnya," ujar pria asal Penyalai, Kabupaten Pelalawan ini.

Selain memproduksi buah, Rafi memang mempersiapkan bibit jambu bagi mereka yang tertarik untuk menanam. Dan dari penjualan bibit jambu, ternyata tak kalah hebat dalam mengisi kantong Rafi.

Harga bibit jambu milik Rafi bervariasi. Mulai dari Rp50 ribu hingga mencapai angka Rp3 juta, tergantung tinggi dan besar pohonnya. Angka yang fantastis itu, tentu saja bukan jenis bibit yang baru turun cangkok atau okulasi, tetapi berupa pohon jambu yang sudah produksi maksimal.

"Jika ada yang berminat pohon yang sudah besar dan berbuah lebat begini, saya juga jual. Tapi harganya bukan seperti harga bibit jambu," ujar Rafi sambil memegang salah satu pohon jambu madu MDH yang bediri tegap dengan buah yang bergelantungan.
 
Gambar 4. Rafi Memegang Jambu Madu di Kebun Mini Rumahnya
Jika sudah begitu, bisa anda bayangkan berapa penghasilan Rafi perbulannya. Sehari saja terjual 5 kilo jambu, dia sudah mengantongi uang Rp200 ribu. Belum lagi dari hasil penjualan bibitnya yang tak kalah banyak peminat.



Gambar 5. Bibit Jambu Madu


Setiap yang melihat, pastilah tertarik untuk memilikinya. Dalam polibag kecil saja, jambu madu MDH milik Rafi sudah mulai mengeluarkan bunga. Jika dipindah ke pot atau media yang lebih besar, pohon jambu madu tentu akan tumbuh besar dengan buah yang tentu saja lebih banyak dan besar.

Gambar 6. Jambu Madu Di Dalam Polibag

"Biasanya ibu-ibu yang langsung tergoda melihat jambu madu ini. Soalnya, sambil duduk di depan rumah bisa memetik jambu madu milik sendiri di dalam pot," ujar Rafi.

Soal perawatan dan pupuk, menurut Rafi tak begitu berat. Pohon jambu madu yang masih kecil belum membutuhkan pupuk yang banyak. Cukup dikasi pupuk dasar berupa kotoran ternak dan sedikit NPK. Ketika jambu madu sudah besar dan berbuah, kebutuhan pupuknya mulai meningkat. Meski begitu, untuk 100 batang pohon jambu madu yang sudah besar, hanya menghabiskan dana untuk pupuk sekitar Rp500 ribu. Itu pun sudah termasuk biaya pestisida dan perangkap lalat buah.

Gambar 7. Perangkap Lalat Buah Pada Tanaman Jambu Madu.

Untuk mengatasi lalat buah, Rafi merakit sendiri perangkap yang dipasang di sekitar lahan. Dengan demikian, dia tidak perlu lagi repot membungkus putik jambu.

"Semakin banyak perangkap lalat buah, makin baik. Soalnya, hama utama jambu madu adalah lalat buah. Jika sudah dihinggapi lalat buah, alamat jambu madu akan busuk," kata Rafi.

Rafi yakin Tabulampot jambu madu (MDH) miliknya akan tetap berjaya meski baraneka jenis buah menyerbu Kota Pekanbaru. Baik yang diproduksi di Pekanbaru maupun berasal dari luar daerah. Menurut Rafi, pangsa pasar jambu air terutama jambu madu akan tetap ada. Jambu adalah buah yang sudah merakyat dimakan oleh siapa saja dan dimana saja.